kepemimpinan Kepala Sekolah

About these ads

One response to “kepemimpinan Kepala Sekolah

  1. KONSEP KEPIMIMPINAN

    Kepemimpinan (leadership) memiliki beragam definisi, namun bisa dirumuskan secara umum sebagai suatu proses memengaruhi, memotivasi, serta memelihara hubungan kerja sama dan kerja kelompok untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam pendidikan, tujuan sudah tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945, dan untuk mencapai tujuan masing-masing dibutuhkan sosok kepemimpinan (leadership).
     Cara membangkitkan semangat dan mendorong bawahan untuk menyelesaikan tugas/pekerjaan
     The ability and readiness to inspire, guide, direct or manage other
     Kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan dan memaksa orang lain –jika diperlukan- untuk melakukan aktivitas tertentu.

    STANDAR KEPALA SEKOLAH

    Secara teoritis seorang kepala sekolah dituntut untuk profesional agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan maksimal. Setidaknya ada delapan kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah untuk bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.
     Pertama, memiliki rasa tanggung jawab yang besar atas terlaksananya seluruh kegiatan yang mendukung tercapainya tujuan sekolah/pendidikan.
     Kedua, memiliki kemampuan untuk memotivasi orang untuk melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas.
     Ketiga, memiliki rasa percaya diri, keteladanan yang tinggi dan kewibawaan.
     Keempat, dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah.
     Kelima, mampu membimbing, mengawasi dan membina bawahan (guru) sehingga masing-masing guru memperoleh tugas yang sesuai dengan keahliannya.
     Keenam, berjiwa besar, memiliki sifat ingin tahu dan memiliki pola pikir berorientasi jauh ke depan.
     Ketujuh, berani dan mampu mengatasi kesulitan.
     Kedelapan, selalu melakukan inovasi di segala hal. menjadi tuntutan yang perlu dimiliki oleh seorang kepala sekolah.
    Delapan kompetensi di atas merupakan syarat ideal kepala sekolah dalam membangun pendidikan ditengah-tengah tuntutan jaman dan tuntutan masyarakat. Jika delapan kompetensi ideal tadi belum bisa terpenuhi, maka ideal minimal seorang kepala sekolah adalah memiliki idealisme untuk memajukan sekolah, memajukan profesionalisme guru, memajukan kretifitas siswa dan membangun soft skill komunitas sekolah yang dipimpinnya.
    Siapapun kepala sekolah yang memimpin suatu sekolah apabila mampu melakukan fungsi komunikasi yang baik dengan semua pihak, maka penilaian yang umum diberikan oleh guru, siswa, staf dan masyarakat sudah cukup untuk menyatakan bahwa kepala sekolah tersebut adalah kepala sekolah yang ideal.

    HUBUNGAN KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPEMIMPINAN

    Sebagai sebuah organisasi, sekolah merupakan lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang saling berkait dan menentukan, serta memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki organisasi lain. Berkembang tidaknya sekolah amat dipengaruhi oleh kepemimpinan dari kepala sekolah yang merupakan pejabat formal, manajer, pemimpin, pendidik, dan juga sebagai staf
    Sebagai pejabat formal, kepala sekolah diangkat melalui proses, prosedur, dan peraturan yang berlaku. Sebagai manajer, kepala sekolah merupakan seorang perencana, organisator, dan pengendali. Dalam hal ini kepala sekolah harus memerhatikan tiga hal, yaitu proses; pendayagunaan seluruh sumber organisasi; dan pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
    Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus mampu mendorong timbulnya kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru, staf dan siswa dalam melaksanakan tugas masing-masing. Juga memberikan bimbingan dan pengarahan para guru, staf dan para siswa serta memberikan dorongan memacu dan berdiri di depan demi kemajuan dan memberikan inspirasi sekolah dalam mencapai tujuan.
    Tuntutan masyarakat untuk mendapat pendidikan yang baik, murah dan berkualitas adalah tantangan yang harus dijawab dengan arif, akurat, informatif dan aplikatif oleh kepala sekolah. Namun harus pula dipahami, dapatkah sekolah yang berkualitas terkelola dengan dana minim? Jika ada sekolah yang kekurangan dana tetapi berkualitas, sungguh luar biasa kinerja kepala sekolah beserta seluruh jajarannya.
    Kepala sekolah adalah penanggungjawab tunggal yang bertanggungjawab di lingkungan sekolahnya. Untuk itu, kepala sekolah sebagai pemimpin harus memiliki sifat kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.
    Menurut para ahli tipe dasar kepemimpinan, adalah (a) otoriter, (b) demokrasi, dan (c) Laissez-faire. Kemudian dari ketiga dasar kepemimpinan itu timbul tipe kepemimpinan lain, misalnya tipe instruktif, konsultatif, partisipatif dan delegatif.
    Kepemimpinan itu situasional, artinya suatu tipe kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif untuk situasi yang lain. Tipe kepemimpinan yang paling cocok adalah yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yaitu kepemimpinan Pancasila. Kepemimpinan Pancasila menuntut agar kita bertindak seperti apa yang telah di ucapkan oleh ” Ki Hajar Dewantara ” yaitu : Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
    1. Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya kepala sekolah sebagai pemimpin yang berdiri tegak di paling depan harus memberikan contoh atau teladan kepada semua bawahannya, contohnya :
     Cara berpakaian yang rapi,
     Kehadiran kepala sekolah harus lebih awal dari guru dan staf lainnya,
     Memiliki wibawa yang tinggi,
     Menguasai permasalahan yang menyangkut bidangnya,
     Memilik rasa tanggungjawab yang tinggi,
     Penuh dedikasi,
     Aktif dan kreatif.
    2. Ing Madyo Mangun Karso, artinya profil kepala sekolah yang ideal apabila berada di tengah-tengah lingkungan tugasnya harus bijaksana, contohnya :
     Mampu memberikan motivasi terhadap guru maupun personil lainnya agar mencintai profesinya,
     Kepala sekolah harus mampu membantu dan menunjukkan masalah-masalah pekerjaan apabila ada guru dan staf mendapat kesulitan.
     Kepala sekolah menyalahkan atau mencari-cari kesalahan guru atau staf, tapi sebagai kepala sekolah harus membantu memecahkan masalah tersebut.
     Sebagai pimpinan, kepala sekolah haraus dapat menciptakan suasana yang menyenagkan sehingga guru dan personil lainnya bekerja dengan suasana aman, tidak meras tertekan.
     Sebagai pimpinan hendaknya memperhatikan kesejahteraan bawahannya.
    3. Tut Wuri Handayani, artinya kepala sekolah hendaknya memberikan kebebasan kepada bawahannya untuk bertindak aktif dan kreatif dalam menjalanklan tugasnya, contohnya :
     Mampu menjabarkan tugas-tugas sebagai guru dan sebagai pegawai/staf.
     Untuk wakil kepala sekolah, staf pimpinan diberikan kesempatan menjabarkan kebijaksanaan kepala sekolah yang telah tertuang dalam program kerja sekolah.
     Administrasi sekolah yang dikelola oleh kepegawaian/tata usaha, agar dijabarkan sesuai kebutuhan sekolah. Kepala sekolah mengikuti kemudian mengarahkan apabila terjadi kesalahan penapsiran atau terjadi penyimpangan-penyimpangan dari apa yang telah ditetapkan.
    Karena kepala sekolah merupakan central atau fokus segala sesuatu, maka seorang pemimpin harus mengetahui dan mampu menjabarkan administrasi sekolah secara umum, administrasi kesiswaan, dan administrasi keuangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam usaha pengelolaan sekolah sebagai suatu sistem.

    KEPALA SEKOLAH YANG IDEAL

    Kepemiminan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Kepemimpinan ideal identik dengan kepemimpinan transformasional yang dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.
    Terdapat empat faktor untuk menuju kepemimpinan tranformasional, yang dikenal sebutan 4 I, yaitu : idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.
    1. Idealized influence : kepala sekolah merupakan sosok ideal yang dapat dijadikan sebagai panutan bagi guru dan karyawannya, dipercaya, dihormati dan mampu mengambil keputusan yang terbaik untuk kepentingan sekolah.
    2. Inspirational motivation : kepala sekolah dapat memotivasi seluruh guru dan karyawannnya untuk memiliki komitmen terhadap visi organisasi dan mendukung semangat team dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan di sekolah.
    3. Intellectual Stimulation : kepala sekolah dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi di kalangan guru dan stafnya dengan mengembangkan pemikiran kritis dan pemecahan masalah untuk menjadikan sekolah ke arah yang lebih baik.
    4. Individual consideration : kepala sekolah dapat bertindak sebagai pelatih dan penasihat bagi guru dan stafnya.
    Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif serta ideal dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para kepala sekolah dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di sekolahnya.
    Karena kepemimpinan transformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin transformasional yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sungguh-sungguh dari yang bersangkutan. Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:
    a. Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
    b. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
    c. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
    d. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
    e. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
    f. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi
    Selain hal itu, beberapa hal yang menjadi tolak ukur kepala sekolah yang ideal adalah terlaksananya beberapa hal dibawah ini :

    Kewirausahaan sekolah
    Persaingan dan perubahan yang terjadi dalam konteks multi-dimensional mensyaratkan kemampuan kepala sekolah yang handal untuk melakukan beraneka ragam pekerjaan. Dengan demikian, dari waktu ke waktu persyaratan kepala sekolah ideal senantiasa berubah sehingga pertumbuhan profesionalismenya harus terus-menerus juga dirangsang.
    Manajemen sekolah
    Koontz (1984) mengatakan bahwa pengelolaan adalah esensial yang baik di semua kerjasama yang dikoordinasi, di semua tingkat organisasi, yang mana pelaksanaannya sering ada kendala atau sering ada masalah. Kendala dan masalah dapat muncul pada setiap kegiatan manajemen. Oleh karena itu bagaimana upaya sekolah untuk mengurangi kendala dan memecahkan masalah merupakan tanggung jawab kepala sekolah sebagai seorang manajerial di sekolah.
    Penyusunan rencana strategis dalam pengembangan sekolah
    UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan manajemen berbasis sekolah (school based management) sebagai prinsip utama yang harus dipegang taguh dalam pengelolaan semua satuan pendidikan. Ketentuan ini kemudian dipertegas dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
    Penyusunan rencana operasional, rapbs, proposal dan kerangka acuan kegiatan dalam pengembangan sekolah dasar
    Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas merupakan Direktorat Jenderal yang dibentuk melalui PP No. 8 Tahun 2005. Salah satu direktorat di bawahnya adalah Direktorat Tenaga Kependidikan yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyiapan bahan perumusan kebijakan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi di bidang pembinaan tenaga kependidikan pada pendidikan formal.
    Pengembangan sistem informasi manajemen sekolah dasar
    Salah satu kompetensi kepala sekolah/madrasah yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah tersebut adalah mengelola sistem informasi sekolah / madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah / madrasah.
    Manajemen tata usaha sekolah
    Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah / Madrasah tersebut adalah manajemen tata usaha sekolah/madrasah. Kepala sekolah yang bertugas sebagai pengelola sekolah memiliki peranan yang penting bagi pengembangan sekolah terkait dengan tugasnya tersebut. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi manajemen tata usaha sekolah/madrasah sesuai perkembangan iptek yang semakin pesat. Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan sumber daya manusia di sekolah dasar
    Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar nasional pendidikan. Implementasi dari kedua payung hukum tersebut di lakukan oleh pemerintah, antara lain dengan terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah. Salah satu isi dari PerMendiknas tersebut adalah kompotensi manajerial, kepemimipinan merupakan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh kepala sekolah. Disamping itu pelaksanaan Otonomi Daerah mengharuskan kepala sekolah untuk mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi peraturan yang berlaku di daerah masing masing.
    Pengorganisasian sekolah
    Kepala sekolah sebagai pengelola sekolah mempunyai peranan yang sangat strategis dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Ia diharapkan mampu meningkatkan iklim sekolah yang kondusif bagi terlaksanannya proses belajar mengajar yang efektif, dan mengaktuaklisasikan sumber daya yang ada di sekolah seoptimal mungkin dalam menunjang prose belajar mengajar.
    Perencanaan partisipatori pengembangan pendidikan berbasis sekolah
    Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pasal 49 ayat (1) pada Peraturan Pemerintah ini menyatakan: “Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
    Kepemimpinan pendidikan persekolahan yang efektif
    Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas sekolah, maka meningkat pula tuntutan terhadap para kepala sekolah. Mereka diharapkan mampu melaksanakan fungsinya baik sebagai manajer dan leader. Untuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang lain, pemerintah Indonesia telah menunjukkan good will, dengan memperhatikan kesejahteraan melalui beberapa langkah antara lain: pemberian gaji, kewenangan, dan otonomi yang cukup untuk memperkuat peran manajerial mereka di sekolah. Dengan diterbitkannya instrumen kebijakan baru, maka para kepala sekolah akan segeran mendapat kompensasi meningkat, dukungan profesional, dan otonomi
    Manajemen unit produksi/jasa sebagai sumber belajar siswa dan penggalian dana pendidikan persekolahan
    Persaingan yang dialami oleh tamatan SMK/MAK dalam memenangkan kesempatan kerja semakin hari semakin ketat. Hanya mereka yang kompetenlah yang mampu memenangkan persaingan tersebut. Terlebih-lebih dalam menghadapi pasar global, di mana tenaga kerja dari negara manapun akan bebas bersaing di negara kita. Sejalan dengan kondisi tersebut, SMK/MAK harus semakin siap membekali tamatannya dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja sehingga tamatannya benar-benar mampu bersaing dan siap memenangkannya.
    Pemanfaatan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas pembelajaran dan manajemen
    Dalam dua dasawarsa terakhir ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mengalami perkembangan yang amat pesat dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan dan inovasi penyelenggaraan pendidikan di berbagai negara.
    Manajemen pengembangan dan implementasi kurikulum tingkat satuan pendidikan
    Dalam pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, sebagai jantungnya pembelajaran, tidak hanya didasarkan kepada kehendak kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum semata. Tetapi juga harus memperhatikan tujuan pendidikan nasional, tujuan pendidikan di provinsi, dan tujuan pendidikan lokal (kabupaten/kota), yang merupakan arah untuk dijabarkan menjadi kompetensi dasar dan kompetensi lulusan peserta didik. Di samping itu, esensi dan profesionalisme guru sebagai pendidik, harus menjadi pemahaman yang komperhensif dan tepat dalam pengembangan kurikulum.
    Manajemen pemberdayaan sumber daya tenaga pendidik dan kependidikan sekolah
    Dalam sekolah apapun Sumber Daya Manusia (SDM) menempati kedudukan yang paling vital. Memang diakui bahwa biaya itu penting. Demikian pula sarana, prasarana dan teknologi. Namun ketersediaan sumber-sumber daya itu menjadi sia-sia apabila ditangani oleh orang-orang yang tidak kompeten dan kurang komitmen.
    Manajamen sarana dan prasarana pendidikan persekolahan berbasis sekolah
    Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu sumber daya yang penting dan utama dalam menunjang proses pembelajaran di sekolah, untuk itu perlu dilakukan peningkatan dalam pendayagunaan dan pengelolaannya, agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
    Manajemen layanan khusus sekolah
    Kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan serta mampu mewujudkan kompetensi tersebut terutama dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai administrator, manajer, supervisor, dan seorang pemimpin (leader). Sebagai manajer pendidikan, kepala sekolah dituntut memiliki kemampuan memobilisasi sumber daya, baik manusia maupun non-manusia, bagi keefektifan sekolah.
    Manajemen kesiswaan (peserta didik)
    Manajemen peserta didik termasuk salah satu substansi manajemen pendidikan. Manajemen peserta didik menduduki posisi strategis, karena sentral layanan pendidikan, baik dalam latar institusi persekolahan maupun yang berada di luar latar institusi persekolahan, tertuju kepada peserta didik.
    Manajemen keuangan sekolah
    Permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah pemerataan, mutu dan relevansi serta efektivitas manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan yang sentralistik yang kita laksanakan selama pemerintahan Orde Baru, dipandang kurang mendorong terjadinya demokratisasi pengelolaan pendidikan. Manajemen pendidikan yang sentralistik tidak dapat mengakomodasi perbedaan keragaman atau kepentingan baik untuk daerah, sekolah maupun peserta didik, serta memastikan partisipasi masyarakat dalam proses pendidikan.
    Manajemen peran serta masyarakat dalam pengembangan pendidikan sekolah
    Era globalisasi yang ditandai dengan persaingan yang sangat ketat diiringi dengan tumbuh dan berkembangnya tuntutan demokratisasi pendidikan, akuntabilitas, tuntutan kualitas serta jaminan mutu dari dunia kerja. Kondisi tersebut di atas mensyaratkan sekolah dan tenaga pendidik dan kependidikan untuk memiliki kualitas yang andal dan sebagai jaminan mutu hasil proses pendidikan yang dilakukan. Seiring dengan berbagai tuntutan kualitas tersebut pemerintah telah melahirkan berbagai peraturan perundangan yang pada dasarnya memberikan jaminan kualitas tenaga pendidik dan kependidikan.

    HUBUNGAN KEPALA SEKOLAH DENGAN PERUBAHAN PENDIDIKAN

    Dari segi kepemimpinan, seorang kepala sekolah mungkin perlu mengadopsi gaya kepemimpinan transformasional, agar semua potensi yang ada di sekolah dapat berfungsi secara optimal. Kepemimpinan transformasional dapat didefinisikan sebagai gaya kepemimpinan yang mengutamakan pemberian kesempatan, dan atau mendorong semua unsur yang ada dalam sekolah untuk bekerja atas dasar sistem nilai (values system) yang luhur, sehingga semua unsur yang ada di sekolah (guru, siswa, pegawai, orangtua siswa, masyarakat, dan sebagainya) bersedia, tanpa paksaan, berpartisipasi secara optimal dalam mencapai tujuan ideal sekolah.
    Ciri seorang yang telah berhasil menerapkan gaya kepemimpinan transformasional (Luthans, 1995: 358) adalah sebagai berikut:
     Mengidentifikasi dirinya sebagai agen perubahan (pembaruan)
     Memiliki sifat pemberani
     Mempercayai orang lain
     Bertindak atas dasar sistem nilai (bukan atas dasar kepentingan individu, atau atas dasar kepentingan dan desakan kroninya)
     Meningkatkan kemampuannya secara terus-menerus
     Memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi yang rumit, tidak jelas, dan tidak menentu
     Memiliki visi ke depan.
    Dalam era desentralisasi, kepala sekolah tidak layak lagi untuk takut mengambil inisiatif dalam memimpin sekolahnya. Pengalaman kepemimpinan yang bersifat top down seharusnya segera ditinggalkan. Pengalaman kepemimpinan kepala sekolah yang bersifat instruktif dan top down memang telah lama dipraktikkan di sebagian besar sekolah kita ketika era sentralistik masih berlangsung. Keadaan ini berakibat pada terbelenggunya seorang kepala sekolah dengan juklak dan juknis. Dampak negatifnya ialah tertutupnya sekolah pada proses pembaruan dan inovasi.
    Kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan partisipatif-transformasional memiliki kecenderungan untuk menghargai ide-ide baru, cara baru, praktik-praktik baru dalam proses belajar-mengajar di sekolahnya, dan dengan demikian sangat senang jika guru melaksanakan classroom action research. Sebab, dengan penelitian kelas itu sebenarnya guru akan mampu menutup gap antara wacana konseptual dan realitas dunia praktik profesional. Akibat positifnya ialah dapat ditemukannya solusi bagi persoalan keseharian yang dihadapi guru dalam proses belajar-mengajar di kelas. Jika hal ini terjadi, berarti guru akan mampu memecahkan sendiri persoalan yang muncul dari praktik profesionalnya, dan oleh
    karena itu mereka dapat selalu meningkatkannya secara berkelanjutan.
    Agar proses inovasi di sekolah dapat berjalan dengan baik, kepala sekolah perlu dan harus bertindak sebagai pemimpin (leader) dan bukan bertindak sebagai bos. Ada perbedaan di antara keduanya. Oleh karena itu, seyogianya kepemimpinan kepala sekolah harus menghindari terciptanya pola hubungan dengan guru yang hanya mengandalkan kekuasaan, dan sebaliknya perlu mengedepankan kerja sama fungsional. Ia juga harus menghindarkan diri dari one man show, sebaliknya harus menekankan pada kerja sama kesejawatan; menghindari terciptanya suasana kerja yang serba menakutkan, dan sebaliknya perlu menciptakan keadaan yang membuat semua guru percaya diri.
    Kepala sekolah juga harus menghindarkan diri dari wacana retorika, sebaliknya perlu membuktikan memiliki kemampuan kerja profesional; serta menghindarkan diri agar tidak menyebabkan pekerjaan guru menjadi membosankan.

    KESIMPULAN

    Kepala sekolah sebagai pemimpin unit kerja dalam suatu lembaga pendidikan, merupakan ujung tombak dalam usaha pencapaian tujuan pendidikan yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu kita beranggapan bahwa keberadaan kepala sekolah pada suatu sekolah harus memenuhi kriteria/persyaratan yang diperlukan. Selain kepemimpinan dan kemampuan nya kita juga dapat melihat dari kharisma yang melekat pada diri kepala sekolah itu sendiri.
    Pengetahuan yang didukung oleh latar belakang pendidikan yang relevan dengan tugas kepemimpinan sebagai kepala sekolah yang sesuai akan turut membentuk jiwa manajerial kepala sekolah. Pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki kepala sekolah akan turur mewarnai keidealan kepala sekolah.
    Keterampilan kepala sekolah yang diwujudkan oleh daya kreatifitas dalam menghadapi berbagai masalah dan cepat dalam mengambil kesimpulan atau keputusan juga akan mendukung kepala sekolah menjadi ideal dalam menjalankan tugas dan posisinya.
    Oleh karena itu dapatlah kita simpulkan bahwa kepala sekolah yang ideal sangat dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan, dan ketermpilan yang dimilkinya. Perilaku kepala sekolah yang terbentuk dapat dilihat dari sejauh mana penghayatan dan pengamalannya yang dikehendaki dalam butir-butir Pancasila.

    Sumber- sumber

    1. Hj Hariati Tinuk. SPd Guru SMP Negeri 8 Malang. Sumber: http://endang965.wordpress.com
    2. Tendik, Direktorat Kependidikan, Tenaga Kependidikan, Pengawas, Kepala Sekolah, Pustakawan, Administrasi, Laboran, Organisasi http://www.tendik.org
    3. John Hall, et.al. 2002. Transformational Leadership: The Transformation of Managers and Associates. on line : http://www.edis.ifas.ufl.edu
    4. http://www.bpgisdik-jabar.net/
    5. Muhammad Yusuf, S.Ag., M.Pd. di 03:33 (posting Email)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s