Memahami Berbagai Potensi Anak

2 responses to “Memahami Berbagai Potensi Anak

  1. manusia memiliki sifat yang unik….

    begitu anak dilahirkan membawa berbagai bakat dan potensi…

    bagaimana menggali potensi anak tersebut agar bisa dikembangkan secara optimal ??

    lalu apa setiap potensi pada anak bisa dikembangkan ??

  2. MULTIPLE INTELLIGENT DAN POTENSI ANAK
    Manusia memiliki potensi untuk ingin selalu tahu tentang apa yang terjadi di sekitanya, termasuk dalam hal ini adalah yang dilakukan oleh Alferd Binet pada tahun 1900-an.[10] Ia ingin mengukur berbedaan kecerdasan manusia melalui alat ukur. Saat itu ia diminta untuk mengembangkan sebuah alat yang dapat mengenali anak-anak dengan mental terbelakang dan membutuhkan bantuan ekstra, maka pada saat tersebut tes kecerdasan standar pertama kalinya lahir di dunia. Belakangan peneliti lain mengembangkan teknik memberikan serangkaian pertanyaan kepada anak-anak. Mereka mencatat pertanyaan yang dapat dijawab dengan benar oleh semua anak, pertanyaan yang dapat dijawab oleh sebagian besar, pertanyaan yang hanya bisa dijawab sebagian kecil, dan pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh seorangpun. Informasi ini digunakan untuk merancang sebuah tes yang akan membedakan tingkat-tingkat pengetahuan siswa, kemudian informasi tersebut disusun sedemikian rupa sehingga skor 100 akan menunjukkan kecerdasan rata-rata.
    Gagasan bahwa kecerdasan dapat diukur secara objektif dan dilaporkan dengan sebuah skor akhirnya berakar sampai saat teori multiple intelligent ditemukan.[11] Hampir seabad kemudian, banyak sekali tes standar tersedia untuk beragam tujuan, dan semuanya didasarkan pada pemikiran Binet bahwa sebuah tesdapat menghasilkan angka yang menggambarkan seluuh kemampuan dan potensi seseorang. Pada saat ini tes-tes tersebut banyak menuai kritik, karena bagaima mungkin seluruh kemampuan dan potensi seseorang dapat digambarkan oleh sebuah tes, apalagi sebuah angka?. Namun demikian masih banyak keputusan penting yang diambil berdasarkan nilai atau skor dari tes.
    Ketidakpuasan terhadap hasil tes atau skor yang mencerminkan potensi manusia lama kelamaan banyak yang tidak mengakuinya, hal tersebut termasuk Gardner, ia beralasan bahwa tes IQ yang menghasilkan skor atau nilai hanya mengukur kecerdasan secara sempit yaitu terfokus pada kecerdasan akademis, tes tersebut tidak dapat memperkirakan keberhasilan anak dimasa mendatang, padahal kecedasan anak tidak hanya dapat diukur keceradsan berbahasanya dan logis matematisnya, oleh karena itu tes standar menawarkan informasi prakiraan yang kurang membantu tentang keberhasilan dalam kehidupan. Hal tersebut membuktikan bahwa telah sangat lama masyarakat bersembunyi dibalik tes objektif yang memberikan hasil konsisten yang dapat dipercaya dan mengabaikan fakta bahwa tes ini hanya mengukur sepenggal kecil sebauah gambar.
    Alasan kedua Gardner tidak sependapat dengan tes IQ adalah pada saat dilakukan tes kondisi psikologis siswa bermacam-macam, kadang mereka pada saat kondisinya capek, kadang sakit, kadang jenuh, bahkan kadang bahagia[12]. Kondisi-kondisi tersebut secara signifikan akan mempengaruhi hasil tes IQ siswa, dan belum tentu suatu saat mereka diberikan tes lagi mereka akan mndapatkan skor yang sama pada saat tes pertama dilangsungkan.
    Teori Kecerdasan ini semula dimaksudkan untuk psikolog, namun dikembangkan dengan sangat pesat pada dunia pendidikan. Hal tersebut karena beberapa alasan, diantaranya adalah teori ini memberikan pendekatan yang pragmatis pada bagaimana kita mendifinisikan kecerdasan dan mengajari kita memanfaatkan kelebihan siswa untuk membantu mereka belajar[13]. Siswa yang dapat membaca dan menulis dengan baik masih disebut siswa yang cerdas, tetapi mereka ditemani siswa-siswa yang lain yang memiliki bakat yang berbeda. Melalui Multiple Intelligent sekolah dan ruang kelas menjadi tempat yang didalamnya terdiri dari berbagai kecakapan dan kemampuan dalam memecahkan masalah belajar. Menjadi cerdas tidak lagi ditentukan oleh nilai ulangan, namun menjadi cerdas ditentukan oleh seberapa baik siswa belajar dengan cara yang beragam.
    Konsekwensi secara psikologis terhadap teori ini adalah anak akan dihargai berdasarkan kemampuannya dan perbedaannya, demikian juga guru terlatih untuk menghargai perbedaan tersebut. [14]“Penghargaan” bagi siswa adalah penting, karena apabila anak selalu dihadapkan pada situasi lingkungan yang selalu postif maka mereka akan menjadi anak-anak yang penuh percaya diri dalam mengembangkan potensinya. Hal tersebut sangat berbeda dengan apabila anak berada pada kelas tradisional yang hanya mengakui kecerdasan logis-matematis, anak yang tidak cerdas pada aspek tersebut mereka akan merasa minder, tidak dapat pengakuan, dan bahkan anda guru atau masyarakat yang memberikan label pada mereka sebagai anak yang bodoh[15]. Label tersebut selamanya anak akan terikat olehnya, dan pada akhirnya ia akan menjadi siswa yang bodoh, minder, dan tidak percaya diri. Label bodoh, dalam teori ini tidak diakui keberadaannya, karena manusia diciptakan oleh Tuhan telah membawa potensinya masing-masing,
    Thomas Amstrong, penulis Multiple Intelligent : Ways to Approach Curriculum, mengatakan bahwa kecerdasan tertentu yang dimiliki oleh anak akan terus menerus ada. Di sekolah, anak akan belajar dengan kecerdasan yang dimiliki. Bidang kecerdasan yang dimiliki oleh setiap anak tidak sama, sehingga bidang-bidang yang menonjol pada setiap anakpun berbeda. Dengan demikian semestinya orang tua tidak perlu khawatir bila anak menonjol di satu bidang, sedangkan bidang lain tidak sangat menonjol. Hal ini bukan berarti anak tidak pandai atau tidak dapat mengikuti pelajaran secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s