tujuan dan kendala pendidikan

One response to “tujuan dan kendala pendidikan

  1. 1. TUJUAN PENDIDIKAN
    Menurut UU No. 20 tahun 2003, Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berkhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
    Dari beberapa pendapat tentang tujuan pendiikan, bahwa dalam pendidikan Islam sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan untuk membentuk manusia muslim yang mempunyai karakter kepribadian Islami. Memiliki kemampuan dalam menghadapi tantangan jaman, dan bermakna bagi dirinya sendiri. orang lain dan lingkungan. Sehingga dapat terwujud manusia sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan dari makhluk lain (Q.S. 17 : 70).
                      
    Dan Sesungguhnya Telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.
    Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan. Jika kelebihan potensi manusia tidak dikembangkan akan fatal akibatnya sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah At-Tiin (95)
               
    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). (Tim Terjemah, 1990 : 95).
    Jika kita menengok tentang tujuan pendidikan nasional, maka siswa didik tidak hanya diarahkan pada faktor pengetahuan, namun dituntut terpenuhinya suatu usaha untuk menggali potensi yang ada pada diri anak, dalam kaitannya mempersiapkan siswa didik menjadi anak yang cerdas, terampil, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang baik, serta mempunyai rasa tanggungjawab terhadap masyarakat dan negara. Dengan demikian, pendidikan nasional diharapkan akan mampu mewujudkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. sebagai perwujudan tujuan pendidikan nasional, maka diperlukan suatu pemantapan kurikulum, seperti halnya kurikulum yang dikembangkan saat ini, yakni kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan kemudian dikembangkan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
    Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang sempurna, sempurna baik secara jasmaniah (fisik) maupun rohaniah (non fisik). Proses kesempurnaan tersebut yang pada akhirnya akan membentuk manusia yang paripurna (insan kamil). Manusia tidak akan dapat mencapai kepada derajat insan kamil, kalau manusia itu tidak memiliki ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan proses belajar, baik belajar sendiri (self learning) maupun berinteraknsi dan berkomunikasi dengan lingkungan (eksperiment). Sebagimana Allah Swt. mengisyaratkan dalam firman-Nya, surat al-‘Alaq ayat 1: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan” (Depag RI, 2004: 479)

    a) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
    Dalam rumusan pancasila sila pertama menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, ini menunjukkan bahwa ciri khas dari bangsa Indonesia adalah memiliki kepercayaan yang sama akan Ke-Esaan Tuhan. Untuk mewujudkan sistem Ketuhanan tersebut, dalam proses pendidikan telah merumuskan tujuan yang bertolak dari sila perrtama dengan mengembangkan potensi anak didik agar memiliki rasa iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasulullah SAW bersabda;
    ”tuntutlah oleh kalian akan ilmu pengetahuan, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah azza wazalla dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui nya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu itu akan menempatkan pemiliknya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Ilmu adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akherat” [HR Arabii]
    Pendidikan Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup menusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Seperti dalam surat a Dzariyat ayat 56 :
          
    “ Dan Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”.
    Sudah sangat jelas bahwa tujuan pendidikan secara umum mengacu pada tujuan pendidikan yang telah diajarkan dalam Islam. Karena itu, dalam setiap lembaga pendidikan yang melakukan proses pembelajaran senantiasa memasukan unsur pendidikan keagamaan yang kesemuanya bertujuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yakni membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
    b) Berakhlak mulia
    Tujuan pendidikan Nasional adalah membentuk karakter anak didik memiliki akhlak mulia. Dalam dimensi ini, pendidikan diharapkan mampu mengarahkan dan membangun karakter anak didik agar memiliki kesesuain antara perbuatan, perkataan dan pemikiran. Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammd SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintahkanNya dan menjauhi laranganNya. Rasulullah saww bersabda:
    إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيْمَ دَرَجَاتِ اْلآخِرَةِ وَشَرَفِ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لَضَعِيْفُ الْعِبَادَةِ
    (Seorang hamba dengan akhlaknya yang mulia bisa mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia kendatipun sedikit ibadahnya).

    Dalam hadis yang lain beliau bersabda:
    إِنَّ حَسَنَ الْخُلُقِ يَبْلُغُ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
    (Orang yang berakhlak terpuji dapat menyamai derajat orang yang berpuasa dan shalat malam).

    c) Sehat
    Salah satu unsur tujuan pendidikan nasional adalah terbentuknya jiwa raga peserta didik sehat jasmani dan rohani. Upaya untuk memenuhi hal tersebut, dalam kurikulum satuan pendidikan wajib menyertakan pendidikan jasmani dan olah raga. Hal ini dilakukan sebagai salah satu usaha bidang pendidikan untuk mengembangkan potensi peserta didik yang memiliki bakat dan minat dalam bidang jasmani dan olahraga.
    Sementara dalam Islam menghendaki agar orang Islam itu sehat mentalnya karena inti ajaran Islam (iman). Kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani, karena kesehatan jasmani itu sering berkaitan dengan pembelaan Islam. Jasmani yang sehat serta kuat berkaitan dengan ciri lain yang dikehendaki ada pada Muslim yang sempurna, yaitu menguasai salah satu ketrampilan yang diperlukan dalam mencari rezeki untuk kehidupan.
    Manusia adalah makhluk utuh yang terdiri atas jasmani, akal, dan rohani sebagai potensi pokok, manusia yang mempunyai aspek jasmani, disebutkan dalam surah al Qashash ayat : 77 :
                             •     
    Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
    Dalam Al-qur’an, Yang akan memperoleh keberuntungan di hari kemudian adalah mereka yang terbebas dari penyakit-penyakit tersebut, seperti bunyi firman Allah dalam surat Al-Syu’ara’ (26): 88-89:
                 
    (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
    Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,
    Pada hari (akhirat) harta dan anak-anak tidak berguna (tetapi yang berguna tiada lain) kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang sehat. Rasulullah bersabda. “Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyaka manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari yang diriwayatkan oleh Ibnu (Abbas).

    d) Berilmu
    Dalam konteks pribadi-individu, pendidikan termasuk salah satu kebutuhan asasi manusia. Sebab, ia menjadi jalan yang lazim untuk memperoleh pengetahuan atau ilmu. Sedangkan ilmu akan menjadi unsur utama penopang kehidupannya. Oleh karena itu islam tidak saja mewajibkan manusia untuk menuntut ilmu (manjalani proses pendidikan), bahkan memberi dorongan serta arahan agar dengan ilmu itu manusia dapat menemukan kebenaran hakiki dan mendayagunakan ilmunya diatas jalan kebenaran itu.
    Al-Ghazali (tt: 50) mengungkapkan bahwa: “Ilmu itu tidak diperoleh kecuali dengan merendahkan diri (tawadhu’) dan menggunakan pendengarannya”. Hal ini juga diperkuat dengan firman Allah Swt. dalam surat Qaf ayat 37:
    •             
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya” (Depag RI, 2004: 415).
    Tuntutlah ilmu karena merupakan kemuliaan di dunia dan akhirat dan pahala yang terus-menerus sampai hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Mujaadalah ayat 11;
                                    
    Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan bahwa salah satu dari amalan yangg tidak akan putus pahalanya dari seorang muslim yang telah meninggal sekalipun adalah ilmu yg bermanfaat. Dalam hadits lain disebutkan;
    “Jarak antara seorang alim (orang yang berilmu) dan seorang abid (tukang ibadah yang tidak berilmu) adalah seratus derajat/tingkat. Jarak diantara dua tingkat itu adalah perjalanan kuda selama 70 tahun” (HR Abu Ya’la dan Ibnu Adi).
    Sudah menjadi keharusan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk anak didik menjadi berilmu. Dan dalam islam telah dijelaskan melalui beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang menyatakan keutamaan bagi orang-orang yang berilmu.

    e) Cakap
    Pendidikan yang baik akan membawa kebahagiaan bagi generasi penerus di dunia dan di akherat. Tetapi jika mereka mengabaikan pendidikannya, maka sengsaralah generasi tersebut dan beban dosanya berada pada leher mereka, maka Rosulullah bersabda,
    ”Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).
    Allah ta’ala berfirmaan, [QS. At Tahrim : 6] tentang kewajiban bagi insan yagar memiliki kecakapan dan rasa tanggungjawab;
            ••              
    .”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

    f) Kreatif
    Aspek yang perlu diperhatikan dalam pendidikan adalah mengembangkan kreativitas bagi peserta didik. Melalui pendidikan diharapakan mampu memupuk semangat inovasi dan kreasi bagi peserta didik agar mampu mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki sehingga akan berdampak pada perkembangan kemajauan bangsa dan negara.
    Para pendidik Muslim sejak zaman permulaan – perkembangan Islam telah mengetahui betapa pentingnya pendidikan keterampilan berupa pengetahuan praktis dan latihan kejuruan. Mereka menganggapnya fardhu kifayah, sebagaimana diterangkan dalam surat Hud ayat 37 :
              •  
    “Dan buatlah bahtera itu dibawah pengawasan dan petunjuk wahyu kami, dan jangan kau bicarakan dengan aku tentang orang-orang yang zalim itu karena meeka itu akan ditenggelamkan”.

    g) Mandiri
    Kemandirian adalah sikap yang tidak menggantungkan hidup kepada orang lain. Disamping menjadi beban, gaya hidup yang tidak mandiri akan menjatuhkan kemuliaan seseorang dalam pandangan orang lain. Islam menganjurkan umatnya agar mandiri. Sehingga setiap gerak yang membawa kearah berdikari dan mandiri mendapatkan porsi penting dalam arahan-arahannya. Dari Anas ra: Nabi saw bersabda:”Seorang yang konsisten dalam mencari rejeki halal, dosanya telah terampuni”.
    Pada hadits lain Nabi memberi sugesti kepada umatnya:
    ”Seorang yang berusaha mencari kebutuhan pokok dan tidak meminta-minta pada orang lain,Allah tidak akan mengazabnya pada hari kiamat. Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka seseorang tidak akan pernah meminta-minta kepada orang lain sedang dia memiliki makanan untuk seharinya. Dan seorang hamba yang berusaha dengan tangannya sendiri sangat disukai oleh Allah. Sungguh Allah sangat benci seseorang yang tidak punya penghasilan dunia dan akhirat”.
    Demikian pula halnya, budak pembuat mimbar Rasulullah saw. Ia telah menghasilkan karya kemandiriannya karena memang bakatnya yang dimilikinya di bidang pertukangan. “Orang-orang yang tidak memiliki ( untuk disedekahkan ) selain sekedar kesanggupannya.” (Q.S. al-Taubah: 79 )
                         
    (orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

    2. PERMASALAHAN PADA LEMBAGA PENDIDIKAN
    Berbagai kebijakan dan peraturan sektor pendidkan yang telah digulirkan pemerintah dalam proses implementasinya masih banyak sekali menemui hambatan. Begitu kompleksnya hambatan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, berdampak pada timbulnya masalah-masalah yang menimbulkan kendala terhadap tujuan pendidikan secara nasional. Secara umum permasalahan pada lembaga pendidikan meliputi;
    1. Kurikulum
    Kurikulum kita yang dalam jangka waktu singkat selalu berubah-ubah tanpa ada hasil yang maksimal dan masih tetap saja. Gembar-gembor kurikulum baru, katanya lebih baiklah, lebih tepat sasaran. Yang jelas, menteri pendidikan berusaha eksis dalam mengujicobakan formula pendidikan baru dengan mengubah kurikulum.
    2. Biaya
    Akhir-akhir ini biaya pendidikan semakin mahal, Banyak masyarakat yang memiliki persepsi pendidikan itu mahal dan muncul paradigma pendidikan yang berkualitas konsekuensinya mahal. Pendidikan sekarang ini seperti diperjual-belikan bagi kalangan kapitalis pendidikan dan pemerintah sendiri seolah membiarkan saja dan lepas tangan.
    3. Tujuan pendidikan
    Katanya pendidikan itu mencerdaskan, tapi kenyataannya pendidikan itu menyesatkan. Bagaiamana tidak? Lihat saja kualitas pendidikan kita hanya diukur dari ijazah yang kita dapat. Padahal sekarang ini banyak ijazah yang dijual dengan mudahnya dan banyak pula yang membelinya (baik dari masyarakat ataupun pejabat-pejabat).
    4. Disahkannya RUU BHP menjadi Undang- Undang
    Hal yang dikhawatirkan, undang-undang baru ini akan membuat biaya pendidikan semakin mahal dan tidak terakses oleh seluruh lapisan masyarakat. UU BHP juga menetapkan perguruan tinggi negeri atau PTS wajib memberikan beasiswa sebesar 20 persen dari seluruh jumlah mahasiswa di lembaganya. Namun, jika ternyata Perguruan Tinggi yang terkait tidak mempunyai dana yang mencukupi, untuk memberikan beasiswa, akhirnya dana tersebut akan dibebankan kepada mahasiswa.
    5. Kontoversi diselenggaraknnya UN
    Perdebatan mengenai Ujian Nasional (UN) sebenarnya sudah terjadi saat kebijakan tersebut mulai digulirkan pada tahun ajaran 2002/2003. UN atau pada awalnya bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) menjadi pengganti kebijakan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas).
    6. Kesrusakan fasilitas sekolah
    Nanang Fatah, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengatakan, sekitar 60 persen bangunan sekolah di Indonesia rusak berat. Di wilayah Jabar, sekolah yang rusak mencapai 50 persen. Kerusakan bangunan sekolah tersebut berkaitan dengan usia bangunan yang sudah tua

    A. Sekolah Dasar (SD)
    Sekolah Dasar yang sudah tersebar diseluruh wilayah di Indonesia merupakan lembaga pendidikan yang wajib dinikmati layananya oleh seluruh masyarakat. Namun demikian, ternyata proses operasionalisasi jenjang Sekolah Dasar banyak sekali mengalami hambatan, diantaranya;
    1. Jumlah pendidik yang sesuai dengan kompetensi dan lulusan akademik belum memenuhi kebutuhan tenaga didik yang profesional. Jumlah tenaga didik untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta),
    2. Kondisi sarana dan prasarana sekolah umumnya tingakat dasar masih sangat memprihatinkan,
    Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama
    3. Berdasarkan data-data dari Departemen Pendidikan Nasional dalam kurun waktu 2003-2008, terlihat angka putus sekolah di jenjang pendidikan dasar bisa berkisar 1-2 persen setiap tahunnya dari total anak usia 7-15 tahun yang seharusnya masuk dalam usia wajib belajar yang ditanggung negara. Sementara itu, lulusan SD/MI yang tidak melanjutkan ke jenjang SMP/MTs jumlahnya bisa mencapai 10 persen
    4. Kebijakan otonomi pendidikan membuat lembaga pendidikan yang berada di daerah miskin kesulitan untuk mendapatkan dan memenuhi segala kebutuhan pembiayaan pendidikan
    5. Rendahnya kompensasi tenaga didik dan kependidikan baggi sekolah yang berada di daerah membuat kinerja dan produktifitas semakin menurun.

    B. Sekolah Menengah Pertama (SMP)
    Masih seperti halnya lembaga pendidikan Dasar. Pada jenjeng pendidikan menengah pertama, juga banyak ditemui berbagai hambatan yang serius dalam kaitanya mencapai tujuan pendidikan dengan mutu yang berkualitas sesuai dengan standar dan kompetensi yang telah ditetapkan.
    1. Khusus di wilayah terpencil, kemampuan ekonomi masyarakat masih kesulitan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah,
    2. Jumlah guru yang profesional secara akademik dan sosial masih belum mampu memenuhi kebutuhan.Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta).
    3. Kinerja Guru
    a. Cara mengajar guru kurang disukai/bahkan tidak disukai
    b. Bimbingan dan penyuluhan dari guru kurang maksimal
    c. Penguasaan guru akan ilmu yang harus disampaikan kurang
    d. Cara penyampaian materi yang monoton dan kurang variatif
    e. Kurangnya pemahaman guru tentang psikologi anak
    f. Perhatian guru tentang latar belakang dan kebutuhan anak kurang
    g. Kepribadian guru yang kurang matang
    h. Minimnya kreatifitas dan inovasi untuk mengatasi berbagai hambatan yang terjadi dalam lembaga
    4. Faktor siswa
    a. Aktifitas belajar kurang.
    b. Tidak dapat mengatur waktu belajar dengan baik.
    c. Motivasi belajar dari dalam diri kurang.
    d. Alat penunjang pelajaran kurang, misalnya buku dan alat-alat tulis.
    e. Daya ingatnya lemah dan pemahamannya kurang, sehingga sulit untuk menerima pelajaran.
    f. Karakteristik siswa yang berbeda-beda.Tidak/kurang suka dengan mata pelajaran tertentu, sehingga kurang maksimal dalam belajar
    5. Putus Sekolah
    Adapun lulusan SMP sederajat yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah lebih dari 10 persen. Sementara itu, lulusan SMA sederajat yang tidak dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi hampir 36 persen. Jumlah siswa SD mencapai 28,4 juta, serta siswa SMP

    C. Sekolah Menengah Atas (SMA)
    Seperti halnya pendidikan pada jenjang sebelumnya, pada tingkat Sekolah Menengah Atas juga masih mengalami berbagai kendala dan hambatan. Kendala dan hambatan yang muncul tersebut lahir dari sisi internal lembaga pendidikan dan juga muncul dari sisi lingkungan (eksternal). Adapun berbagai hambatan tersebut misalnya;

    1. Akses sekolah
    Lokasi yang jauh, hilangnya tulang punggung ekonomi keluarga, serta pandangan tentang penting atau tidaknya pendidikan juga menjadi penyebab anak enggan berangkat hingga akhirnya putus sekolah.
    2. Mahalnya biaya pendidikan
    Pada era otonomi daerah ini asumsi awal melihat besarnya angka putus sekolah adalah situasi kemiskinan yang melilit kemampuan penduduk ataupun pemerintah suatu wilayah dalam memenuhi kebutuhan pendidikan. Fakta menunjukkan, provinsi dengan tingkat pendapatan rendah cenderung memiliki angka putus sekolah yang juga tinggi. Papua Barat, Sulawesi Barat, Maluku, Gorontalo, dan Maluku Utara pada tahun 2007 termasuk dalam lima provinsi yang memiliki nilai produk domestik regional bruto (PDRB) terendah di antara 28 provinsi yang lain.
    3. Kurangya tenaga pendidik
    Banyaknya tenaga guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang enggan mengabdikan dirinya di daerah pedalaman dinilai kurang berkomitmen untuk mencerdaskan pendidikan anak termasuk peserta didik. Hal itu disebabkan kebanyakan guru sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru sejati. Ketersedian guru yang layak untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
    4. Kondisi sarana dan prasarana
    Seperti halnya pada jenjang SD dan SMP, kondisi sarana pendidikan jenjang SMA secara umum juga masih belum memenuhi standar yang telah ditentukan.
    5. Tingginya angka putus sekolah
    Angka putus sekolah SMA dan sederajat masing-masing sekitar 12,8 juta siswa

    D. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
    Pada lembaga pendidikan menengah kejuruan, beberapa permasalahan yang masih dihadapi dewasa ini adalah sebagai berikut:
    (1) Penyelenggaraan pendidikan kejuruan membutuhkan biaya pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan biaya penyelenggaraan pendidikan umum lainnya, namun ternyata belum dapat memberikan tingkat balikan (rate of return) yang lebih tinggi.
    (2) Kurikulum yang selama ini dipakai kurang mempunyai tingkat keluwesan dan terlalu terstruktur sehingga kurang peka terhadap tuntutan kebutuhan lapangan kerja secara luas
    (3) Pendidikan kejuruan seringkali mengalami hambatan dalam perluasannya karena berbagai ketentuan birokrasi, seperti proses perijinan dan ijazah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Padahal, kurikulum sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam pengelolaan pendidakan dalam suatu satuana pendidikan.
    (4) Lulusan SMK pada umumnya belum mampu diserap, karena ketrampilan dan skill tidak mampu untuk bersaing sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
    (5) Rendahnya penerapan mental kewirausahaan melalui pendidikan SMK.
    E. Pendidikan Tinggi
    Beberapa permasalahan yang dialami oleh lembaga pendidikan tinggi adalah;
    1. Layanan Sarana dan Prasarana
    Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.
    2. Diberlakukanya UU BHP
    Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu Pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.
    3. Kompetisi Perguruan tinggi tidak di dasari dengan kekhasan dan karakteristik yang berbeda, karena perguruan tinggi didirikan tidak dengan dana awal yang memadai, dan menyandarkan kepada pemasukan dari kontribusi mahasiswa
    4. Sistem kinerja dosen
    Pada PTS hanya memiliki dosen tetap full-time muda, sedangkan dosen seniornya (termasuk guru besar) merupakan dosen tidak tetap atau dosen tetap part-time sebagai pinjaman dari PTN. Dalam kondisinya sebagai dosen tidak tetap atau part-time, sulit diharapkan adanya kontak yang intensif di antara guru besar/dosen senior dengan para dosen muda dalam konteks pewarisan/sosialisasi nilai-nilai kultur perguruan tinggi terutama kultur akademik. Maka jadilah dosen-dosen muda itu tumbuh sendiri menjadi “dosen senior” secara alami dengan polanya sendiri-sendiri, dan mendidik mahasiswa dengan gayanya sendiri, (gaya alam)
    5. Manajemen dan Kepemimpinan
    Beberapa kendala rendahnya kompetitif persaingan di PT adalah kualitas manajemen dan pola kepemimpinan yang berlaku. Hal ini akan berakibat pada budaya perguruan tinggi yang semakin lemah terhadap kesadaran trilogi perguruan tinggi.

    F. Solusi Permasalahan Lembaga Pendidikan

    Dari seluruh jenjang pendidikan yang ada di Indonesia, perlu ditindaklanjuti tentagg bagaimana solusi yang tepat terhadap permasalahan yang muncul dengan orientasi pengembangan mutu dan pemerataan pendidikan. Beberapa solusi tersebut adalah;
    1. Perbaikan sarana dan prasarana pendidikan melalui berbagai upaya dari pemberdayaan pemerintah pusat, daerah, sekolah dan masyarakat.
    2. Meningkatkan kualitas kompetensi tenaga didik melalui program sertifikasi, pendidikan ke jenjang lebih tinggi, pelatihan, seminar, lokakarya, penelitian, dan pengabdian masyarakat,
    3. Memperbaiki sistem supervisi lembaga pendidikan, dengan mengoptimalkan kinerja supervisor dan kepala sekolah,
    4. Perbaikan kesejahteraan guru dan dosen terutama bagi yang berprestasi serta memiliki kotribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan,
    5. Memberikan pelatihan kepada guru dan dosen tentang strategi pembelajaran yang kreatif, sehingga tujuan pendidikan bisa mencapai target standar minimal yang telah ditetapkan,
    6. Mengutamakan alokasi belanja daerah/ pusat bagi lembaga pendidikan yang memiliki kemampuan pembiayaan rendah/ dibawah kebutuhan operasionalisai pendidikan,
    7. Skala prioritas yang pasti bagi lembaga pendidikan di setiap jenjang dan program yang ada, sehingga pengukuran kompetensi lulusan bisa dicapi semaksimal mungkin,
    8. Pemerintah memberikan akses bagi lembaga pendidikan dan memberikan bantuan untuk menyalurkan lulusan yang siap bekerja di dunia usaha dan industri,
    9. Kontrol dan pengawasan terhadap program pendidikan murah/ gratis karena berkenaan dengan kualitas yang dihasilkan,
    10. Memberikan layanan optimal bagi masyarakat kurang mampu terhadap akses memperoleh layanan pendidikan.
    3. MADRASAH DI INDONESIA
    Menurut sejarahnya, madrasah muncul merupakan “sambungan” dari sejarah-sejarah awal mlahirnya Islam sejak masa Rasulullah SAW, yakni dengan adanya kuttab, , halaqah, suffah atau al zilla. Namun demikian, istilah madrasah muncul pertama kali ketika Nidhamul Mulk dari Bani Saljuk mendirikan Madrasah Nidhamiyah pada tahun 1064 M. Dengan munculnya madrasah nidzamiyah tersebut kemudian diikuti oleh madrasah-madrasah lain.
    Di Indonesia, madrasah didirikan untuk semua warga. Pertama kali berdiri di Sumatra, Madrasah Adabiyah ( 1908, didirikan oleh Abdullah Ahmad), dua tahun kemudian tahun 1910 didirikan Madrasah School di Batusangkar oleh Syaikh M. Taib Umar, kemudian M. Mahmud Yunus pada 1918 mendirikan Diniyah School sebagai lanjutan dari Madrasah school, Madrasah Tawalib didirikan Syeikh Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang (1907). lalu, Madrasah Nurul Uman didirikan H. Abdul Somad di Jambi.
    Tahun 1912 Madrash muncul di Jawa. Ada model madrasah-pesantren NU dalam bentuk Madrasah Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Muallimin Wustha, dan Muallimin Ulya (mulai 1919); ada madrasah yang mengapropriasi sistem pendidikan Belanda plus, seperti Muhammadiyah (1912) yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Tsnawiyah, Muallimin, Muballighin, dan madrasah Diniyah. Ada juga model Al-Irsyad (1913) yang mendirikan madrasah Awaliyah, Ibtidaiyah, Madrasah Tajhiziyah, Muallimin dan Tahassus; atau model madrasah PUI di Jabar yang mengembangkan madrasah Pertanian.
    Pada 1915 berdiri madrasah bagi kaum perempuan, yaitu Madrasah Diniyah putri yang didirikan Rangkayo Rahmah Al-Yunisiah. Zaiuniddin Labai ini juga yang pertama kali mendirikan Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Minangkabau pada 1919. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Maklumat BP KNIP 22 Desember 1945 No. 15 yang menyerukan agar pendidikan di mushala dan madrasah berjalan terus dan diperpesat; kemudian diperhatikan melalui keputusan BP KNIP 27 Desember 1945 (agar madrasah mendapat perhatian dan bantuan dari pemerintah) dan melalui Laporan Panitia Penyelidik Pengarahan RI tanggal 2 Mei 1946 yang menegaskan, pengajaran yang bersifat pondok pesantren dan madrasah dipandang perlu untuk dipertinggi dan dimodernisasi serta diberi bantuan berupa biaya sesuai dengan keputuan BP KNIP. Perhatian pemerintah negeri ini diwujudkan dengan PP No. 33 Tahun 1949 dan PP No. 8 Tahun 1950.
    Pada masa reformasi, UU No. 20/2003 tentang UUSPN khususnya Pasal 17 Ayat 2 dan Pasal 18 Ayat 3, madrasah diakui statusnya sederajat dengan sekolah umum. Namun, pemerintah masih enggan memberikan bantuan, apalagi pernah beredar Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Moh Ma`ruf, tanggal 21 September 2005 No. 903/2429/SJ tentang Pedoman Penyusunan APBD 2006 yang melarang pemerintah daerah mengalokasikan APBD kepada organisasi vertikal (termasuk terhadap madrasah).
    Melalui PP No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan terdapat Pasal 12 ayat (1) yang menyebutkan pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberi bantuan sumber daya pendidikan kepada pendidikan keagamaan. Namun kenyataanya masih banyak pemerintah daerah yang belum memberikan perimbangan dana kepada madrasah.
    Saat ini, di Indonesia, terdapat 38 ribu madrasah dengan Sekitar 20% adalah guru PNS, sementara selebihnya non-PNS. Setiap tahunnya, madrasah meluluskan dua ratus ribu siswa. Beberapa tahun terakhir muncul perhatian dari pemerintah terhadap madrasah seiring dengan semangat otonomi daerah yang digulirkan, dan tidak lepas dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang memasukkan madrasah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Sebagaimana tersurat dalam pasal 30 ayat 4 UU No. 20 tahun 2003 tentang sisdiknas yang menyatakan bahwa Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.
    Secara historis, keberadaan pendidikan keagamaan berbasis masyarakat menjadi sangat penting dalam upaya pembangunan masyarakat belajar, terlebih lagi karena bersumber dari aspirasi masyarakat yang sekaligus mencerminkan kebutuhan masyarakat sesungguhnya akan jenis layanan pendidikan.
    UU No. 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa Pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat. Sebagai pendidikan yang berbasis masyarakat, maka perhatian dan dukungan masyarakat adalah menjadi yang utama. Sementara dukungan dan perhatian pemerintah justru harus dijadikan stimulus baru untuk meningkatkan kualitas madrasah. Sehingga tanggung jawab dari segi tiga pilar (pengelola madrasah, masyarakat dan pemerintah) tersebut harus menjadi kekuatan pendukung peningkatan mutu pendidikan di madrasah.
    Munculnya SKB tiga menteri (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri dalam Negeri) menandakan bahwa eksistensi madrasah sudah cukup kuat beriringan dengan sekolah umum. Di samping itu, hal tersebut dinilai sebagai langkah positif bagi peningkatan mutu madrasah baik dari status, nilai ijazah maupun kurikulumnya (Malik Fadjar, 1998). Di dalam salah satu diktum pertimbangkan SKB tersebut disebutkan perlunya diambil langkah-langkah untuk meningkatkan mutu pendidikan pada madrasah agar lulusan dari madrasah dapat melanjutkan atau pindah ke sekolah-sekolah umum dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
    Pencarian bentuk madrasah ideal terus dilakukan. Kemenag dalam rangka menciptakan madrasah ideal yang kompetitif dengan sekolah umum, namun tetap mempertahankan ciri khas keislamannya. Di antara eksperimen tersebut adalah lahirnya kebijakan Madrasah Model, Madrasah Terpadu, Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK), Madrasah Aliyah Program Keterampilan (MAPK), dan Madrasah Unggulan.

    Madrasah Model.
    Pada tahun 1993, Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Model mulai dipopulerkan, dengan mendirikan sebanyak 54 MTs. Pada tahun 1997, madrasah model dikembangakan tidak hanya pada Madrasah Tsanawiyah akan tetapi mencakup Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Aliyah dengan jumlah Madarasah Ibtidaiyah Model 44 madrasah, Madrasah Tsanawiyah Model 69 madrasah dan Madrasah Aliyah Model 35 madrasah.
    Madrasah Terpadu
    Menghadirkan madrasah yang menekankan aspek keterpaduan proses pendidikan mulai Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah adalah ide awal pendirian Madrasah Terpadu. Ini tentunya diakibatkan oleh kenyataan yang dihadapi bahwa pendidikan madrasah selama ini berjalan tidak didasarkan pada konsep yang menjaga kesinambungan dan keterpaduan pendidikan dari tingkat dasar sampai menengah.
    Madrsah Tsanawiyah Tebuka.
    Dibuka mulai pada tahun ajaran 1996/1997 sebagai respon kebijakan pemerintah tentang penuntasan percepatan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun (wajar dikdas 9 tahun). Operasional Madrasah Tsanawiyah Terbuka dilakukan oleh Departemen Agama bekerjasama dengan Pusat Teknologi Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional. Madrasah Tsanawiyah Terbuka diselenggarakan di pondok-pondok pesantren salafiyah. Tujuan diselenggarakannya MTs Terbuka pada saat itu adalah untuk memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya terhadap masyarakat khususnya para kaum santri yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (Depag RI, 2004: 7-10).
    Hasilnya, madrasah mengalami berbagai perkembangan tidak hanya dalam tataran kuantitas, tetapi juga dari segi kurikulum dan sistem pendidikan, metode pengajaran, dan berbagai fasilitas pengajarannya. Di kota-kota di Indonesia kini, nyaris tidak ada perbedaan antara madrasah dengan sekolah umum selain materi pelajaran agama yang lebih banyak terdapat dalam kurikulum madrasah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s