fil. Pendidikan Pancasila

One response to “fil. Pendidikan Pancasila

  1. BAB II
    KONSEP PENDIDIKAN PANCASILA

    A. Pengertian Pendidikan Pancasila
    Pancasila secara etimologis berasal dari bahasa sansakerta dari India. Menurut Muh. Yamin, dalam bahasa sansakerta pancasila memiliki dua macam arti : panca artinya Lima, Syila artinya Batu sendi, alas atau dasar. Dan syila diartikan juga sebagai peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh. Menurut ajaran Budha, Pancasyila merupakan lima aturan (larangan) yang harus ditaati atau dilaksanakan oleh para penganutnya.
    Pancasila secara terminologis tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang terdiri dari empat alenia, yang tercantum rumusan pancasila : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan Yang Di Pimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan. 5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
    Pancasila adalah dasar negara bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, pancasila mempunyai fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia antara lain pancasila sebagai dasar negara RI, alat pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup, dan sumber dari segala sumber hukum serta sumber ilmu pengetahuan di indonesia.
    Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari suatu kebenaran. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidikan berdasarkan filsafat. Jika dihubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat dijabarkan bahwa pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang menjiwai dari sila-sila pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
    Menurut Dr. Sabig Sama’an, dalam Al-Syaibany, filsafat pendidikan adalah pendidikan yang dilakukan oleh para pendidik dan filosof untuk menerangkan, menyelaraskan, mengecam dan merubah proses pendidikan dengna persoalan-persoalan kebudayaan dan unsur-unsur yang bertentangan di dalamnya.

    B. Pancasila Sebagai Azas Pendidikan Nasional
    Manusia sebagai makhluk individu atau masyarakat, sebagai bangsa dan negara hidup di dalam sosial budaya. Aktivitas untuk mewariskan dan mengembangkan budaya itu terutama melalui pendidikan. Untuk menjamin pendidikan itu benar dan prosesnya efektif, maka dibutuhkanlah landasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai azas normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan.
    Dengan demikian kedua azas tersebut tidak dapat dipisahkan sebab pendidikan merupakan usaha mewariskan dan mengembangkan kebudayaan. Mengemban suatu kewajiban yang luas yang menentukan prestasi suatu bangsa serta tingkat sosial budaya mereka.
    1. Ontologi –Metafisika
    a. Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Dari sila pertama ini mengharapkan bahwa kita akan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang juga merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Dalam kenyataanya kita tidak lepas dari kesalahan dan dosa, tetapi dengan beragama (Islam), kita akan sadar, waspada pada apa yang akan kita lakukan agar tidak menyalahi dan melanggar ajaran agama. Di dalam tujuan pendidikan nasional disebutkan untuk menjadikan manusia yang beriman dan betakwa kepada Allah, baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakan bisa ditanamkan nilai-nilai keagamaan dan pancasila.
    b. Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
    Setiap manusia mempunyai kebebasan dalam menuntut ilmu, serta mendapat perlakuan yang sama kecualli tingkat keimanan yang membedakan. Oleh karenanya dibangun masyarakat yang dijiwai pancasila dalam pendidikan yang akan melahirkan masyarakat yang susila, bertanggung jawab, adil dan makmur baik spiritual maupun material dan berjiwa pancasila.
    c. Sila Ketiga Persatuan Indonesia.
    Pancasila serta UUD 1945 serta kecintaan terhadap tanah air menghapus perasaan kesukuan yang sempit dan memotivasi untuk penyebaran dan pemerataan pembangunan yang akan menghalangi pikiran-pikiran yang berbau separatisme rasiolisme (Aziz,1984). Sila ketiga ini menyatakan tidak ada pembatasan dalam bidang pendidikan dari semua golongan.
    d. Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan.
    Dalam sila keempat ini menggambarkan tentang demokrasi, karena menghargai pendapat orang lain demi kemajuan. Atau dalam filsafat dikenal dengan aliran progresivisme. Selain itu dalam UUD 1945 pasal 28 menyatakan tentang kebebasan mengeluarkan pendapat baik secara lisan maupun tulisan, jadi dalam menyusun sebuah pendidikan diperlukan ide-ide atau gagasan dari orang lain demi kemajuan pendidikan.
    e. Sila Kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    Dalam sistem pendidikan nasional adil dalam arti luas, adalah mencakup seluruh aspek pendidikan yang ada dengan tidak melaksaksanakan pendidikan yang berat sebelah. Di dalam tujuan pendidikan nasional, di samping mengejar ilmu pengetahuan, juga mengejar keimanan dan ketaqwaan yang merupakan tujuan dari ibadah.

    2. Epistimologi
    a. Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Pancasila tidak lahir secara mendadak, akan tetapi melalui proses yang panjang yang dimatangkan dengan perjuangan. Pancasila digali dari bumi Indonesia yang merupakan dasar negara, pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, tujuan atau arah untuk mencapai perjanjian luhur rakya Indonesia (Widjaya, 1985). Maka dapat kita ketahuai apakah ilmu itu didapat melalui rasio atau datang dari Tuhan.
    b. Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
    Pancasila adalah ilmu yang diperoleh melalui perjuangan yang sesuai dengan logika. Dengan mempunyai ilmu moral, diharapkan tidak ada lagi kekerasana dan kesewenang-wenangan manusia terhadap yang lainya. Tingkat kedalaman pengetahuan merupakan perwujudan dari potensi rasio dan intelegensi yang tinggi. Proses pembentukan pengetahuan melalui pendidikan secara teknis edukatif lebih sederhan. Komunikasi antara guru dan siswa berfungsi memperjelas bahan informasi untuk menyamakan persepdi yang ditangkap dari berbagai sumber.
    c. Sila Ketiga Persatuan Indonesia.
    Proses terbentuknya pengetahuan manusia merupakan hasil dari kerja sama atau produk dan hubunganya dengan lingkungan. Bila dihubungkan dengan pancasila, hubungan antar manusia diperlukan suatu landasan yaitu pancasila. Dengan demikian kita akan mengetahui ciri-ciri suatu masyarakat serta bagaimana terbentuknya masyarakat tersebut.
    d. Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan.
    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai pemimpin di muka bumi ini untuk memakmurkan umat manusia. Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikanlah yang mempunyai perananan besar, akan tetapi tidak menutup peranan keluarga dan masyarakat dalam membentuk manusia Indonesia seutuhnya.
    e. Sila Kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    Ilmu pengetahuan sebagai perbendaharaan dan prestasi individu serta sebagai karya budaya manusia yang merupakan martabat manusia. Untuk memperoleh itu semua, pendidikan baik formal maupun informal adalah jalan untuk mengejar semuanya baik yang bersifat IPTEK maupun IMTAQ. Dalam bidang sosial banyak dilakukan kegiatan pendidikan yang bersiat membina mental dan rasa sosila terhadap sesama.

    3. Aksiologi
    a. Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
    Percaya kepada Allah adalah merupakan ajaran yang paling utama dalam agama Islam. Dilihat dari segi pendidikan, sejak dari tingkat pendidikan taman kanak-kanak sampai ke perguruan tinggi pendidikan agama terus diberikan karena hal ini merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional.
    b. Sila Kedua Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
    Di dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Dengan demikian, lembaga pendidikan hendaknya mengamalkan sila-sila dari pancasila dan menciptakan suasana kelas yang bernuansakan islam.
    c. Sila Ketiga Persatuan Indonesia.
    Islam mengajarkan supaya bersatu dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan serta mengajarkan untuk taat kepada pemimpin. Indonesia adalah negara pancasila, namun bukan negara yang berdasarkan agama. Dalam pendidikan, jika kita ingin berhasil haruslah berkorban untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dan setiap warga negara mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan (bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh).
    d. Sila Keempat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Dan Perwakilan.
    Sikap gotong royong dan kebersamaan di Indonesia sudah ada sejak jaman dahulu. Dari ajaran Islam juga memperkuat bahwa setiap manusia mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah. Dalam hal pendidikan bagaimana membentuk manusia yang bermusyawarah dan bertanggung jawab dalam melaksanakan keputusan yang diambil dan dipertanggung jawabkan secara moral kepada Allah SWT.
    e. Sila Kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    Dengan berdasarkan butir-butir dari sila kelima ini, maka dapat kita ketahui bahwa nilai yang dikandungnya telah ada sejak sebelum islam datang. Dan pancasila merupakan pedoman, arah dalam mencapai tujuan sistem pendidikan nasional.

    C. Implementasinya Dalam Sistem Pendidikan Nasional
    1. Tujuan Pendidikan Pancasila
    Pasal 2
    ”Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.

    Pasal 3
    ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
    Tujuan pendidikan pancasila ialah menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, dengan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab, mengenali masalah hidup, memahami perubahan perkembangan ilmu pengetahuan, dan memahami makna sejarah dan budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia.
    Tujuan pendidikan Pancasila ialah sesuatu yang ingin diraih dengan melaksanakan pendidikan Pancasila sesuai dengan landasan-landasannya. Tujuan pendidikan pancasila dapat dibedakan menjadi :
    a. Tujuan Filosofis Pendidikan Pancasila
    Dengan berfilsafat Pancasila peserta didik bukan diajak untuk bermimpi, tetapi mengajak secara rasional berpikir komprehensif-radikal, berpikir utuh- mendasar, berpikir menyeluruh sedalam-dalamnya mengenai hidup dan mengenai segala apa yang ada.
    1. Tujuan Instrumental Filosofis Pendidikan Pancasila
    Tujuan Instrumental Filosofis ialah agar dengan melalui proses pendidikan Pancasila peserta didik terbimbing untuk dapat menggunakan fungsi praktis pancasila yaitu menuntun langkah-langkah atau tindakan konkret dalam kehidupan, dan dapat menggunakan fungsi teoritis filsafat pancasila yaitu sebagai metode dalam menemukan kebenaran yang mendasar atau kebenaran yang sedalam-dalamnya.
    Pendidikan Pancasila bertugas menyajikan pedoman bertindak dan melangkah secara konkret. Jadi, pendidikan Pancasila bertujuan untuk menanamkan pandangan hidup penangkis terhadap pandangan hidup yang lain yang berbahaya bagi keselamatan hidupnya, masyarakat, bangsa dan negara.
    2. Tujuan Material Filosofis Pendidikan Pancasila
    Tujuan material Filosofis ialah materi filosofis apa atau bahan pengetahuan filosofis mana yang diharapkan dipelajari peseta didik dan dicerna dalam proses belajarnya. Pancasila sebagai filsafat memberikan interprestasi atas hidup, nilai-nilai hidup, dan makna hidup. Pemahaman yang benar atas pancasila sebagai filsafat, memberikan sumbangan yang besar bagi usaha untuk mempersatukan maksud bersama, kehendak bersama, dan cita-cita bersama seluruh rakyat.
    3. Tujuan formal Edukatif Filosofis Pendidikan Pancasila
    Tujuan formal edukatif filosofis ialah terbentuknya kepribadian peserta didik karena ia mengerti dan menghayati kepribadian pancasila. Maka, peserta didik diharapkan menjadi orang yang dapat berpikir kritis dan bijaksana,tidak berpandangan sempit, dapat bersikap sosial konstruktif sesuai dengan sifat-sifat orang yang memiliki kepribadian pancasila
    b. Tujuan Material Pendidikan Pancasila
    Tujuan Material Pendidikan Pancasila ialah materi atau bahan pengetahuan apa mengenai pancasila yang diharapkan diketahui, dikuasai, sehingga menjadi perbendaharaan pengetahuanpeserta didik setelah mengikuti proses pendidikan pancasila.
    Tujuan Material Pendidikan Pancasila bagi peserta didik adalah dipahaminya tentang :
    1. Tersiratnya nilai pancasila dalam arti material mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia atau sebagai dasar filsafat negara RI.
    2. Ajaran ilmiah sistematis, yaitu pengetahuan sistematis mengenai naskah-naskah negara yang mempunyai sifat imperatif yuridis.
    3. Sistem pemerintahan negara berdasarkan pancasila dan UUD 1945.
    4. Ilmu pancasila yuridis kenegaraan.

    c. Tujuan Historis Pendidikan Pancasila
    Tujuan Historis ialah tumbuhnya rasa keterikatan menjadi satu pada bangsa, negara dan tanah air Indonesia karena keterikatan oleh satu proses sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
    Nilai instrumental dari tujuan historis adalah memperkokoh dan memantapakan kesadaran peserta didik terhadap pandangan hidup bangsa melalui pemahaman sejarah perjuangan bangsa.
    d. Tujuan Kultural Pendidikan Pancasila.
    Tujuan kultural pendidikan pancasila ialah bagaimana bangsa Indonesia harus belajar agar dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Cita-cita bangsa Indonesia berdasarkan UUD 1945 yaitu ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesjahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
    Nilai instrumentalnya yaitu dengan berkebudayaan pancasila, manusia Indonesia dapat menempatkan dirinya, berkomunikasi, dan bekerjasama dengan baik ditengah-tengah kebudayaan bangsa-bangsa di dunia.
    e. Tujuan Yuridis Pendidikan Pancasila
    Tujuan yuridis ialah kesadaran hukum beserta pengetahuan hukum yang deperlukan sebagai landasan kesadaran terhadap hukum tersebut.
    Nilai instrumental dari tujuan yuridis adalah peserta didik dapat menangkis secara yuridis dan ilmiah apabila ada pihak-pihak yang bermaksud mengganti pancasila dengan ideologi, dasar filsafat negara, dan filsafat hidup bangsa yang lain.

    2. Kurikulum
    Pasal 36
    (1) Pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
    (2) Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
    (3) Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
    Peningkatan iman dan takwa; peningkatan akhlak mulia; peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik; keragaman potensi daerah dan lingkungan; tuntutan pembangunan daerah dan nasional; tuntutan dunia kerja; perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; agama; dinamika perkembangan global; dan persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
    (4) Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
    Pasal 37
    (1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
    Pendidikan agama; pendidikan kewarganegaraan; bahasa; matematika; ilmu pengetahuan alam; ilmu pengetahuan sosial; seni dan budaya; pendidikan jasmani dan olahraga; keterampilan/kejuruan; dan muatan lokal.
    (2) Kurikulum pendidikan tinggi wajib memuat:
    Pendidikan agama; pendidikan kewarganegaraan; dan bahasa.
    (3) Ketentuan mengenai kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
    Pasal 38
    (1) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh Pemerintah.
    (2) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah.
    (3) Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi.
    (4) Kerangka dasar dan struktur kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional
    pendidikan untuk setiap program studi.
    Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
    Sekolah bertujuan untuk mendidik anak agar menjadi manusia yang baik. Baik pada ahakikatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang terkandung dalam pancasila, serta guru orang tua dan masyarkat. Perbedaan filsafat negara akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan setiap negara. Kurikulum dalam pendidikan harus ada dan mempunyai hubungan yang erat dengan filsafat bangsa dan negara (pancasila), terutama dalam menentukan manusia yang dicita-citakan melalui pendidikan yang memiliki jiwa pancasila.

    3. Jenis Lembaga dan Jenjang Pendidikan
    Pasal 13
    (1) Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
    (2) Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan dengan sistem terbuka melalui tatap muka dan/atau melalui jarak jauh.
    Pasal 14
    Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
    Pasal 15
    Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus.

    Pasal 16
    Jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
    Pendidikan anak usia dini pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. –bagi anak sejak lahir sampai usia 6 tahun dan bukan prasyarat masuk pendidikan dasar pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (tk), raudhatul athfal (ra), atau bentuk lain yang sederajat.
    Pendidikan dasar pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (sd) dan madrasah ibtidaiyah (mi) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (smp) dan madrasah tsanawiyah (mts), atau bentuk lain yang sederajat.
    Pendidikan menengah pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (sma), madrasah aliyah (ma), sekolah menengah kejuruan (smk), dan madrasah aliyah kejuruan (mak), atau bentuk lain yang sederajat.
    Pendidikan khusus dan layanan khusus pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Dapat diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
    4. Hak dan Tanggug Jawab Pendidikan
    Hak peserta didik a. Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama; mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan Bakat, minat, dan kemampuannya; b. mendapatkan beasiswa bagi yang berprestasi yang orang Tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; c. mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orang Tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya; d. pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan Pendidikan lain yang setara; e. menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan Kecepatan belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.
    Kewajiban peserta didik a. Menjaga norma-norma pendidikan untuk menjamin keberlangsungan proses dan keberhasilan pendidikan; b. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

    5. Sistem Filsafat Pancasila
    Pancasila disebut FILSAFAT karena Pancasila memenuhi ciri-ciri sebagai filsafat yakni : Sistematis, fundamental, universal, integral, dan radikal mencari kebenaran yang hakiki. Filsafat yang monotheis dan religius yang mempercayai adanya sumber kesemestaan yaitu Tuhan yang Maha Esa. Monodualisme dan monopluralisme atau integralistik yang mengutamakan ketuhanan, kesatuan dan kekeluargaan. Memiliki corak universal terutama sila I dan sila II serta corak nasional Indonesia terutama silan III, IV dan V. Idealisme fungsional (dasar dan fungsi serta tujuan idiil sekaligus). Harmoni Idiil (asas selaras, serasi dan seimbang). Memiliki ciri-ciri dimensi idealitas, realitas dan fleksibilitas. Sila-sila Pancasila merupakan satu kesatuan sistem yang bulat dan utuh (sebagai suatu totalitas).
    Pancasila sebagai kesatuan sistem filsafat memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis. Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakekat dasar dari sila-sila Pancasila. Hakekat dasar ontologis Pancasila adalah manusia karena manusis merupakan subyek hukum pokok dari sila-sila pancasila.
    Kajian epistemologis Pancasila dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakekat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan (sumber pengetahuan, teori kebenaran pengetahuan, watak pengetahuan). : nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia. logisitas yang harmonis antara akal, rasa, dan kehendak manusia untuk memperoleh kebenaran yang tertinggi. Pancasila mendasarkan pandangan bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas nilai
    Kajian aksiologi filsafat Pancasila pada hakekatnya membahas tentang nilai praksis atau manfaat suatu pengetahuan tentang Pancasila. Aksiologi Pancasila mengandung arti bahwa kita membahas tentang filsafat nilai Pancasila.

    BAB III
    KESIMPULAN

    Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari suatu kebenaran. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang kependidikan berdasarkan filsafat. Jika dihubungkan fungsi pancasila dengan sistem pendidikan di tinjau dari filsafat pendidikan, maka dapat dijabarkan bahwa pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang menjiwai dari sila-sila pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
    Tujuan pendidikan pancasila ialah menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepad Tuhan YME, dengan sikap dan perilaku yang bertanggung jawab, mengenali masalah hidup, memahami perubahan perkembangn ilmu pengetahuan, dan memahami makna sejarah dan budaya bangsa untuk menggalang persatuan Indonesia. Tujuan pendidikan Pancasila ialah sesuatu yang ingin diraih dengan melaksanakan pendidikan Pancasila sesuai dengan landasan-landasanya.

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Kaelan, 2004, Pendidikan Pancasila, , Paradigma, Yogyakarta.
    2. Jalaluddin & Abdullah, 2002, Filsafat Pendidikan Islam, Gaya Media Pratama, Jakarta.
    3. Wreksosuhardjo Sunarjo, 2004, Filsafat Pancasila Secara Ilmiah dan Aplikatif, Andi Offset, Yogyakarta.
    4. Nata Abuddin, 1997, Filsafat Pendidikan Islam 1, Logos Wacana Ilmu, Jakarta
    5. http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf. (undang-undang sistem pendidikan nasional)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s